Segurih dan Sepadat Daging Sapi

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
karya Yusi Avianto Pareanom

Eh, hai! Lama pula gak nulis di blog. Sebenarnya memang diniatkan untuk pertamakalinya menulis dalam Bahasa Indonesia di blog ini, namun saya ingin buku yang saya bahas juga memang suka banget. Untungnya, buku ini ada. Novel karya mas Yusi Avianto Pareanom ini.

Video pertama di Youtube. Semoga bisa rutin.

Jujur, saya membeli ini gak tahu apa-apa, kurang update di persoalan sastra Indonesia, membuat saya baru membeli buku ini di tahun 2019, tiga tahun setelah buku ini pertama terbit. Itu pun bukan karena buku ini menang berbagai macam penghargaan seperti Fiksi Terbaik 2016 dari Rolling Stone Indonesia misalnya, melainkan karena judulnya. Kata “Raden” diikuti dengan kalimat “Si Pencuri Daging Sapi” lucu aja buat saya, karena kata pertama itu kesannya berwibawa, sedangkan kalimat pengikutnya hina tapi lucu juga karena hanya mencuri daging sapi.

Sekalipun judulnya menyebutkan Raden Mandasia, namun novel ini tidak hanya berkutat pada si Raden tersebut. Bahkan kita akan mendalami ceritanya dari perspektif Sungu Lembu, dengan sudut pandang orang pertama.

Ceritanya, pada zaman dulu, kerajaan paling besar adalah kerajaan Gilingwesi. Gak heran, karena kerajaan itu menguasai banyak daerah bahkan menyerang kerajaan lain di sekitarnya. Salah satunya adalah kerajaan Banjaran Waru.

Tapi, kalau kerajaan lain berusaha mempertahankan kekuasannya dengan berperang sampai dijemput ajal, para pemimpin di kerajaan Banjaran Waru justru sudah menyerah duluan. Mereka sudah yakin kalau mereka akan kalah. Hal ini membuat beberapa orang di kerajaan itu tidak terima. Orang-orang ini disebut para pemberontak.

Menyerang dan diserang balik berkali-kali, akhirnya para pemberontak ini terpencar dan lebih memikirkan siasat untuk menyerang kerajaan Gilingwesi dengan lebih bergerilya. Salah satu anak dari para pemberontak dari Banjaran Waru ini adalah Sungu Lembu, si narator. Menjadi saksi atas perilaku seenak udelnya tentara Gilingwesi kepada orang-orang tercinta, dari menyiksa, memenjarakan, bahkan hingga membunuh, membuat Sungu Lembu menaruh dendam. Ia ingin sekali membunuh raja Gilingwesi, yang namanya adalah Raja Watugunung.

Lalu siapa Raden Mandasia? Raden ini adalah anak dari Raja Watugunung. Ia punya kebiasaan aneh, yaitu memilih sapi yang masih hidup, mencabik-cabiknya (yang katanya sih si sapi gak akan merasakan sakit), lalu mencuri dagingnya. Tapi bukan sekedar mencuri, ia akan merapihkan sendiri hasil prosesi ilmu pedangnya, menyimpan kulit, jeroan dan lainnya dengan rapih, lalu menyisihkan uang untuk membayar peternak atau pemilik sapi yang ia cincang.

Di awal-awal buku kita akan tahu bahwa Sungu Lembu justru menemani Si Pencuri Daging Sapi ini. Bersama mereka, kita akan bertemu dengan banyak cerita-cerita lainnya.

Saya suka sekali dengan novel ini. Karya om Yusi Avianto Pareanom ini berhasil buat saya jatuh cinta lagi dengan karya anak Indonesia. Ini novel dewasa dengan taburan humor di mana-mana. Yang paling saya suka lagi adalah bagaimana om Yusi memberikan panggung untuk karakter-karakter lainnya.

Ada Nyi Manggis, wanita cantik pemilik tempat judi dan pekerja seks komersial. Ada Loki Tua (yang katanya gak tua-tua amat) yang pintar memasak dan alhasil bikin perut saya keroncongan saat baca. Ada juga si Watugunung, raja yang piawai banget berperang.

Tiap karakter dikupas masa lalunya, masing-masing dengan kisah pedih, sedih, dan humornya sendiri. Jadi terasa manusiawi. Termasuk juga naratornya sendiri. Si Sungu Lembu ini sekalipun punya masa lalu pahit nan tragis, sifat dendam dia dibalut humor dia. Entah itu kenaifan sampai sifat pengeluh dia. Membuat kita sebagai pembaca gak hanya bisa berempati namun juga “bersahabat” dengan narator ini.

Konflik yang ada dalam buku ini juga jadi masuk akal. Kekurangannya mungkin bagi sebagian orang yang berekspektasi bahwa novel ini akan banyak cerita adu hebat dan sejenisnya akan kecewa. Karena plot novel ini maju-mundur dan alurnya lambat. Ini adalah novel yang emosional.

Buku ini temanya kolosal dan katanya sih bisa dikategorikan dalam “Cerita Silat”. Tapi saya sendiri belum mengerti karena belum pernah membaca genre ini. Yang pasti, buku ini asyik banget dibaca. Saya sampai langsung order karya om Yusi lainnya pas di tengah-tengah bacaan.

Membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi ini rasanya bikin cukup kenyang, dengan kepadatan berlapis dan sedapnya cita rasa gurih daging sapi.

2 thoughts on “Segurih dan Sepadat Daging Sapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s