Waria, Penjual Jamu, dan Babi Berlumpur

Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman
karya Ahmad Mustafa

Beruntung membaca buku pemenang ke-2 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018 ini tanpa baca resensi pembaca lain yang kadang mengandung beberan akhir cerita. Karena itu di sini coba saya tulis tanpa bocorkan akhirannya.

Ada tiga tokoh utama dalam buku ini. Mbok Wilis si waria yang rutin “nyebong” demi dapat hidup selain juga puaskan birahinya atas lelaki. Lalu Pak Wo si penjual jamu yang pandai menyampaikan ajaran Islam. Terakhir, si Babi Lumpur yang gemar berbuat hal kotor di tempat kotor.

Menurut saya, novel ini bertema besar tentang transformasi. Mbok Willis terlahir sebagai laki-laki, tapi merubah fisik serta penampilan seperti wanita. Pak Wo adalah penjual jamu yang meracik ajaran Islam ke dalam epos Mahabharata. Babi Lumpur belajar menyadari dirinya di antara satwa-satwa lain baik yang lebih klinis atau juga bengis.

Dalam merubah diri, pastilah ada rintangan baik dalam diri maupun orang sekitar. Pada rintangan internal, ada ketidakpercayaan diri. Di rintangan eksternal, ada yang menentang mengajak perang walaupun yang ditentang hanya ingin tenang. Sang waria selalu dipandang berlumur dosa pemuas birahi, sang pengajar dituduh bertaktik untuk jebloskan orang-orang ke neraka, dan babi kotor yang ingin dijadikan bahan pangan oleh pemangsa kotor sejenisnya sendiri.

Cerita disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga. Gaya bahasanya sederhana, dengan kebingungan kecil di sana-sini dikarenakan ada beberapa kosakata bahasa Jawa dan istilah-istilah Islam dalam bahasa Arab, yang ternyata, setelah saya rampung membacanya, dijelaskan di halaman glosarium bagian belakang buku.

Kesimpulan cerita, membacanya mungkin membuat jijik untuk menyantap babi, tapi mengingatkan kita untuk sadar ketika memandang benci kepada mereka yang pandangannya tak sesuai dengan pemikiran. Terinspirasi dari kisah nyata, penulis berhasil membumbuinya dengan fantasi yang menghormati realita. Ini adalah novel yang bikin kenyang tanpa takut gempal, pesan-pesan bahan renungan tak disampaikan dengan menonjolkan hal-hal tragis yang mencekik.

Kekurangan yang saya temukan adalah gaya penulisannya yang di beberapa titik merupakan pengulangan. Lalu beberapa kalimat dalam kurung yang menurut saya tak perlulah dikurung. Serta hal kecil lainnya yang untungnya, semua hal kecil itu tetap tak menganggu kenikmatan membaca.

Bicara tentang fisik bukunya, buku cetakan pertama dari Shira Media ini baik, dengan ukuran huruf cetak yang pas sekalipun saya pribadi lebih suka baca buku yang hurufnya sedikit lebih kecil. Dari segi tata letak, setiap bab tidak diberi penanda angka, melainkan kalimat pembuka, yang menurut saya sangat menarik. Sarannya, bagian glosarium dipindah ke bagian depan agar memudahkan orang lebih mengerti, utamanya pembaca seperti saya yang tak banyak tahu tapi takut membuka halaman belakang karena sering gatal ingin tahu akhir cerita. Atau ya, saya aja sih.

Selain isi cerita, yang terbaik adalah sampulnya, buah goresan tangan Sekar Bestari yang baru saya amati dan lebih mengerti setelah rampung membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s