Cengar-cengir Getir Manusia Timor Barat

Orang-Orang Oetimu
karya Felix K. Nesi

Di Oetimu, sekalipun warganya memiliki ladang jagung serta singkong, mereka makan nasi. Penelitian dari Barat menerangkan bahwa mereka tak bisa tenang-tenang saja santap dua pangan itu karena buruk gizi dan buat otak jadi dangkal.

Selain itu, Am Siki dibilang membela bangsa sekalipun hanya ingin selamatkan pelecehan seksual yang dialami kuda. Ia percaya sebagai mana keluarganya, nenek moyangnya adalah pohon lontar, dan memang ia menyambung kehidupan dengan mengolah malai.

Laura ditakuti, dipercaya sebagai makhluk buruk pembawa kutuk, tapi warga penasaran, jadinya diikuti. Beraknya disantap para anjing, sebab semakin hari semakin sedap.

Romo Yosef berpeluh, ditugaskan membangun sekolah terlupakan sambil terngiang-ngiang ia yang hanya sanggup dikenang. Ketaatannya kepada Tuhan diuji oleh rasa cintanya kepada sesama makhluk, atau cintanya yang justru diuji oleh ketaatan?

Maria menjunjung keadilan, tapi ketegarannya digiles oleh mereka yang merasa menjaga keamanan. Aktivis kampus yang bergerilya, perempuan ini merindukan

Linus adalah pemuda tampan yang harumkan nama bapaknya di desa dengan istilah-istilah asing yang terdengar menjanjikan masa depan. Walaupun ketampanan memang tak selalu berbanding searah dengan kecerdasan.

Silvy punya intelejensi tingkat tinggi, tapi hanya dipandang fisiknya jadi bahan berkelahi dan masturbasi. Keimutannya juga jadi ladang untuk seorang calon pemimpin rakyat yang inginkan atensi.

Lalu, Sersan Ipi, yang menyelenggarakan acara nonton bareng pertandingan Brazil melawan Prancis.

Mereka dan orang-orang lainnya, ada di novel dengan tebal 220 halaman ini. Kisahnya berkisar kepada orang-orang di sana, lepas membebaskan kita dari deskripsi panjang tentang Oetimu. Mereka adalah manusia biasa yang multidimensi, di mana bisikan malaikat dan setan berebut dengar.

Saya sendiri tak menemukan titik bosan di buku ini, sekalipun bukunya tak mau saya baca sekali duduk atau tengkurap. Beberapa hal memang mudah ditebak, tapi penulisan yang sialan buat senyum-senyum sendiri. Beberapa menyedihkan, atau tragis, beberapa membuat termenung. Kekurangannya di bagian akhir, yang rasanya masih bisa diperpanjang dengan kelanjutan kisah-kisah beberapa tokoh.

Yang paling saya suka adalah bagaimana di buku ini, karakter perempuan juga multidimensi. Mungkin karena beberapa waktu lalu saya banyak membaca buku dari penulis laki-laki di mana karakter perempuan hanya jadi pemanis buatan, atau penulis perempuan di mana karakter laki-laki selalu kurang ajar.

Sedikit keluar dari konteks, buku ini adalah buku pertama yang saya beli dari penerbit Marjin Kiri, aduhai suka sekali. Selain cerita, saya suka dengan tata letak dari penerbit ini. Ukuran huruf kecil ideal sehingga tak membuat kertas dan tenaga membalikkannya mubazir. Marjin yang pas buat catatan kecil di pinggir halaman jadi efektif, iya, saya memang sedang belajar membuat catatan di pinggir buku sekalipun ada yang bilang mencoret buku adalah barbar.

Tata Letak yang baik di buku terbitan Marjin Kiri.

Hal ini mungkin seperti remeh-temeh ya untuk beberapa orang. Namun tata letak yang buruk membuat buku jadi kurang terasa nikmat. Hal ini adalah salah satu alasan kenapa saya juga sering membaca buku digital di Kindle, saya bisa atur marjin, ukuran huruf, serta hal-hal lainnya penunjang pengalaman membaca yang mengasyikkan tergantung dari topik bahasan buku, tenaga yang saya punya, di tempat mana saya membacanya.

Buku kedua yang saya punya pun, sama-sama dari Marjin Kiri, adalah Setan Van Oyot karya Djokolelono yang saat menulis ini baru saja saya beli dan akan mulai membacanya beberapa hari ke depan. Tata letak serta hurufnya tak ada bedanya dengan Orang-Orang Oetimu ini, sekalipun di bukunya Djokolelono ini banyak sekali unsur dialog yang menjadikan lebih banyak jeda di halaman. Mungkin nanti, setelah saya miliki lebih banyak buku dari penerbit ini, barulah saya bisa kupas tuntas lebih dalam mengenai kualitas jasmani buku-buku terbitan mereka.

Kesimpulannya? Kalau kamu termasuk orang yang suka dengan novel di mana setiap karakternya dikupas ceritanya, buku pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini bisa jadi kamu sukai. Gaya penulisan yang bisa membuatmu cengar-cengir atau getir jadi pengundang untuk tetap lanjutkan membaca. Tambahan pula sececah gambaran mengenai lika-liku masyarakat Timor Barat baik itu saat terpapar pengaruh Portugis, Belanda, Jepang, ataupun Indonesia.

Untuk resensi saya atas buku pemenang kedua Sayembara Novel Dewan kesenian Jakarta 2018, sila ke sini.

One thought on “Cengar-cengir Getir Manusia Timor Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s